Pada setiap produk yang ada di pasar, ada sebuah perjalanan yang pasti dilalui, dari awal diperkenalkan hingga akhirnya mencapai puncaknya. Salah satu tahap yang sangat menarik dan penuh tantangan adalah maturity stage dalam product life cycle. Di tahap ini, produk sudah mencapai kestabilan yang tinggi, namun juga menghadapi kompetisi yang sangat ketat. Inilah saatnya bagi pengusaha dan pemasar untuk berpikir cerdas: bagaimana cara mempertahankan daya tarik produk yang sudah mapan dan menghadapinya dengan strategi yang lebih tajam? Apakah produk tersebut akan terus bertahan atau tergerus oleh inovasi baru? Pada maturity stage, setiap keputusan pemasaran dan pengelolaan brand akan sangat menentukan masa depan produk itu sendiri.
Pengertian Maturity Stage dalam Product Life Cycle
Maturity stage adalah tahap dalam product life cycle di mana produk telah mencapai puncak siklus hidupnya. Pada tahap ini, penjualan cenderung stabil karena pasar telah jenuh, dan mayoritas konsumen yang menjadi target utama telah menggunakan produk tersebut. Meskipun penjualan masih tinggi, pertumbuhannya melambat secara signifikan. Fokus utama perusahaan pada tahap ini adalah mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan efisiensi operasional agar tetap kompetitif.
Di tahap ini, kompetisi menjadi sangat ketat karena beberapa pemain di pasar menawarkan produk serupa. Perusahaan harus melakukan inovasi kecil pada produk mereka, memperkuat branding, atau menargetkan segmen pasar baru untuk tetap relevan di tengah persaingan.
Contoh nyata:
- Smartphone – Pasar ponsel pintar seperti Samsung Galaxy atau iPhone telah berada di maturity stage. Sebagian besar masyarakat sudah memiliki ponsel pintar, sehingga inovasi yang ditawarkan cenderung berupa pembaruan fitur minor seperti peningkatan kamera atau desain.
- Minuman bersoda – Produk seperti Coca-Cola telah mencapai titik di mana mereka dikenal luas, sehingga fokusnya lebih pada mempertahankan loyalitas pelanggan melalui kampanye pemasaran kreatif dan diversifikasi produk.
Pada tahap ini, perusahaan harus mengoptimalkan strategi pemasaran, meningkatkan efisiensi biaya, dan memperkuat hubungan dengan pelanggan untuk mempertahankan keberlanjutan bisnis.

Ciri-Ciri Utama dari Maturity Stage
Maturity stage merupakan tahap di mana produk telah mencapai puncak popularitasnya, dan pasar mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan. Berikut adalah ciri-ciri utama dari maturity stage:
1. Penjualan Stabil atau Menurun Secara Perlahan
Pada maturity stage, produk telah mencapai titik puncak popularitasnya di pasar. Namun, setelah mencapai tahap ini, tingkat penjualan mulai menunjukkan pola yang stabil tanpa pertumbuhan yang signifikan. Bahkan, dalam beberapa kasus, penjualan dapat mulai menurun secara perlahan karena beberapa faktor berikut:
- Kejenuhan Pasar: Sebagian besar konsumen potensial sudah membeli produk, sehingga pasar mulai mengalami kejenuhan.
- Persaingan Ketat: Dengan banyaknya kompetitor yang menawarkan produk serupa, konsumen memiliki lebih banyak pilihan, yang dapat memengaruhi volume penjualan.
- Perubahan Preferensi Konsumen: Ketika preferensi pasar mulai bergeser atau teknologi baru muncul, produk yang ada menjadi kurang menarik bagi konsumen.
Contoh:
- Industri Laptop: Penjualan laptop dari merek seperti HP, Dell, atau Lenovo cenderung stabil atau menurun karena sebagian konsumen lebih memilih tablet atau smartphone sebagai pengganti perangkat komputer tradisional.
- Kopi Instan: Produk seperti Nescafé atau Kapal Api menghadapi stabilitas dalam penjualan karena hampir semua segmen pasar sudah terpenuhi. Selain itu, munculnya tren kopi premium atau kopi dari kedai lokal juga memengaruhi permintaan kopi instan.
Dalam menghadapi kondisi ini, perusahaan perlu mengembangkan strategi untuk mempertahankan relevansi produk, seperti inovasi kecil, kampanye pemasaran yang lebih agresif, atau perluasan ke pasar baru.
2. Kompetisi yang Semakin Ketat
Pada maturity stage, persaingan antar perusahaan di pasar semakin intens. Hal ini terjadi karena pasar telah mencapai kejenuhan, di mana pertumbuhan jumlah konsumen baru mulai melambat. Produsen tidak lagi bersaing untuk mendapatkan pelanggan baru, melainkan untuk merebut pelanggan dari kompetitor.
Faktor Pemicu Kompetisi Ketat:
- Banyaknya Produk Substitusi: Produk dengan fungsi atau kualitas serupa semakin banyak, sehingga konsumen memiliki lebih banyak pilihan.
- Penekanan pada Harga: Perusahaan sering kali harus menurunkan harga atau memberikan diskon untuk menarik konsumen agar tetap memilih produknya.
- Diferensiasi Produk: Kompetitor berlomba-lomba untuk membuat produk lebih unik melalui inovasi atau fitur tambahan.
Contoh:
- Smartphone: Merek-merek seperti Samsung, Apple, Xiaomi, dan Oppo terus bersaing dalam menawarkan teknologi terbaru, fitur kamera yang lebih canggih, atau desain yang lebih menarik, bahkan di pasar yang sudah jenuh.
- Industri Air Mineral: Produk seperti Aqua, Le Minerale, dan Cleo menghadapi persaingan ketat dengan strategi harga, kampanye pemasaran, atau klaim kualitas seperti “alkali water” atau “kemurnian lebih tinggi.”
3. Fokus pada Inovasi Minor
Pada maturity stage, perusahaan cenderung berfokus pada inovasi minor untuk mempertahankan daya tarik produk di pasar. Inovasi ini umumnya berupa penyempurnaan kecil atau modifikasi pada produk yang sudah ada, bukan inovasi besar-besaran. Hal ini dilakukan untuk menjaga relevansi produk, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan tetap kompetitif di tengah persaingan yang ketat.
Apa itu Inovasi Minor?
- Inovasi yang bersifat penyempurnaan fungsi atau estetika produk.
- Tidak mengubah esensi utama produk, tetapi cukup untuk menarik perhatian konsumen.
- Contohnya meliputi desain ulang kemasan, peningkatan fitur kecil, atau pengenalan varian baru.
Contoh:
- Smartphone: Dalam industri ini, inovasi minor sering terlihat pada pembaruan kamera, peningkatan daya baterai, atau peluncuran warna baru. Misalnya, iPhone meluncurkan varian warna baru seperti “Midnight Green” atau “Purple” untuk menarik minat pembeli.
- Produk Makanan dan Minuman: Produsen minuman seperti Teh Botol Sosro mengeluarkan varian rasa baru atau kemasan edisi khusus, seperti botol bertema Hari Kemerdekaan.
- Fashion: Merek seperti Adidas merilis koleksi sepatu dengan desain kolaborasi atau pola unik untuk menjaga daya tarik produk mereka di pasar yang sudah matang.
Mengapa Fokus pada Inovasi Minor?
- Efisiensi Biaya: Biaya inovasi minor lebih rendah dibandingkan menciptakan produk baru sepenuhnya.
- Peningkatan Loyalitas Konsumen: Konsumen lama merasa dihargai dengan adanya pembaruan produk yang relevan.
- Diferensiasi di Pasar: Membantu produk menonjol di antara kompetitor dengan variasi yang tetap menarik.
Dalam maturity stage, inovasi minor adalah strategi penting untuk mempertahankan posisi di pasar yang kompetitif tanpa perlu mengeluarkan investasi besar. Perusahaan yang berhasil biasanya mampu membaca kebutuhan konsumen dan memperkenalkan inovasi yang tepat waktu.
4. Efisiensi Operasional Menjadi Prioritas
Pada maturity stage, perusahaan menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan profitabilitas di tengah pasar yang semakin jenuh dan kompetisi yang ketat. Salah satu strategi utama untuk menghadapi situasi ini adalah dengan mengutamakan efisiensi operasional.
Apa itu Efisiensi Operasional?
Efisiensi operasional mencakup upaya untuk meminimalkan biaya produksi, distribusi, dan pemasaran tanpa mengorbankan kualitas produk. Hal ini dilakukan untuk menjaga margin keuntungan meskipun tingkat penjualan stabil atau sedikit menurun.
Contoh Implementasi Efisiensi Operasional:
- Penggunaan Teknologi Otomasi:
Perusahaan manufaktur seperti Unilever menggunakan teknologi otomatisasi di pabrik mereka untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja. - Optimalisasi Rantai Pasok:
Merek seperti Indomie fokus pada pengelolaan rantai pasok yang efisien dengan bekerja sama langsung dengan pemasok bahan baku, mengurangi perantara untuk menekan biaya. - Reduksi Biaya Pemasaran:
Perusahaan seperti Coca-Cola memanfaatkan strategi pemasaran digital yang lebih hemat biaya dibandingkan dengan iklan televisi untuk menjangkau audiens yang lebih luas. - Manajemen Energi:
Perusahaan energi seperti PLN melakukan efisiensi dengan menggunakan teknologi yang lebih hemat daya untuk operasional mereka.
Mengapa Efisiensi Operasional Menjadi Prioritas?
- Tekanan Margin Keuntungan: Ketika pasar mencapai titik jenuh, harga produk sering kali harus disesuaikan dengan kompetitor, sehingga efisiensi operasional menjadi kunci untuk mempertahankan profitabilitas.
- Kompetisi yang Ketat: Dengan banyaknya pesaing di pasar, efisiensi memberikan keunggulan kompetitif melalui penawaran harga yang lebih kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
- Peningkatan Kepuasan Pelanggan: Dengan biaya yang lebih efisien, perusahaan dapat menawarkan nilai tambah kepada konsumen, seperti harga yang lebih rendah atau promosi yang lebih menarik.
Pada tahap ini, fokus pada efisiensi operasional adalah cara untuk tetap relevan dan kompetitif di pasar sekaligus menjaga kelangsungan bisnis dalam jangka panjang.
5. Konsumen Setia Menjadi Target Utama
Pada maturity stage dalam product life cycle, perusahaan menghadapi pasar yang sudah jenuh dengan produk yang serupa. Dalam situasi ini, salah satu strategi yang efektif adalah fokus pada konsumen setia untuk mempertahankan pendapatan. Konsumen setia menjadi target utama karena mereka memiliki kecenderungan untuk terus membeli produk meskipun ada banyak pilihan lain di pasar.
Mengapa Konsumen Setia Penting?
- Sumber Pendapatan yang Stabil: Konsumen setia cenderung tetap menggunakan produk yang mereka percaya, sehingga memberikan pendapatan yang stabil bagi perusahaan.
- Efisiensi Biaya Pemasaran: Mendapatkan pelanggan baru biasanya memerlukan biaya lebih besar dibandingkan mempertahankan pelanggan yang sudah ada.
- Rekomendasi dari Mulut ke Mulut: Konsumen setia sering merekomendasikan produk kepada orang lain, membantu perusahaan menjangkau pelanggan baru tanpa biaya promosi besar.
Contoh Strategi yang Menargetkan Konsumen Setia:
- Program Loyalitas Pelanggan:
Contohnya, Starbucks memiliki program Starbucks Rewards yang memberikan poin setiap kali konsumen membeli produk mereka. Poin ini dapat ditukarkan dengan minuman atau makanan gratis, mendorong konsumen untuk terus bertransaksi. - Personalized Marketing:
E-commerce seperti Tokopedia atau Shopee sering mengirimkan promosi yang dipersonalisasi berdasarkan riwayat pembelian konsumen, meningkatkan kemungkinan pembelian ulang. - Peningkatan Layanan Pelanggan:
Perusahaan seperti Grab memastikan bahwa konsumen setia mereka mendapatkan prioritas dalam layanan, seperti pengemudi terbaik atau waktu pengiriman yang lebih cepat. - Edisi Terbatas untuk Konsumen Loyal:
Brand fashion seperti Nike merilis koleksi edisi terbatas yang hanya dapat diakses oleh konsumen loyal, menciptakan eksklusivitas.
Pada maturity stage, perusahaan harus memperkuat hubungan dengan konsumen setia. Strategi ini tidak hanya mempertahankan pendapatan tetapi juga meningkatkan loyalitas, memastikan produk tetap relevan meskipun pasar sudah jenuh.
6. Biaya Pemasaran Meningkat
Pada maturity stage dalam product life cycle, salah satu tantangan utama yang dihadapi perusahaan adalah meningkatnya biaya pemasaran. Persaingan yang semakin ketat membuat perusahaan harus berinvestasi lebih banyak dalam strategi pemasaran untuk mempertahankan pangsa pasar dan tetap relevan di mata konsumen.
Mengapa Biaya Pemasaran Meningkat?
- Persaingan yang Ketat: Banyak produk serupa dari kompetitor memaksa perusahaan untuk terus melakukan kampanye promosi agar tetap menonjol.
- Perubahan Preferensi Konsumen: Perusahaan harus mengikuti tren pasar dan mengkomunikasikan relevansi produk melalui pemasaran yang lebih intensif.
- Diversifikasi Saluran Pemasaran: Penggunaan berbagai saluran, seperti media sosial, iklan televisi, dan kampanye digital, membutuhkan anggaran yang lebih besar.
Contoh Strategi yang Membutuhkan Biaya Pemasaran Tinggi:
- Iklan Massal:
Perusahaan besar seperti Coca-Cola mengalokasikan anggaran besar untuk iklan di berbagai media, termasuk televisi, billboard, dan media digital, guna menjaga brand awareness. - Diskon dan Promosi:
Brand seperti Unilever sering menawarkan promosi seperti buy one get one untuk produk seperti Sunsilk dan Lifebuoy demi menarik perhatian konsumen. - Endorsement oleh Influencer atau Selebriti:
Banyak perusahaan memanfaatkan influencer dan selebriti untuk memperluas jangkauan pemasaran. Contohnya, Shopee menggandeng artis global seperti BLACKPINK untuk kampanye iklan mereka. - Event Marketing:
Samsung sering menggelar acara peluncuran produk besar-besaran untuk tetap relevan di pasar teknologi yang sangat kompetitif.
Meskipun biaya pemasaran di maturity stage meningkat, investasi ini penting untuk mempertahankan daya saing dan memperpanjang umur produk di pasar. Perusahaan harus memastikan bahwa strategi pemasaran yang mereka gunakan memberikan return on investment yang maksimal, baik melalui peningkatan penjualan maupun loyalitas konsumen.

Tujuan dan Fokus pada Maturity Stage
Pada maturity stage dalam product life cycle, produk telah mencapai puncak pertumbuhannya dan mulai stabil di pasar. Tahap ini ditandai dengan tingginya persaingan, penjualan yang stagnan atau perlahan menurun, serta tekanan untuk mempertahankan pangsa pasar. Oleh karena itu, tujuan dan fokus utama perusahaan pada tahap ini berbeda dari tahap-tahap sebelumnya.
Tujuan pada Maturity Stage
- Mempertahankan Pangsa Pasar:
Fokus utama adalah menjaga konsumen tetap setia di tengah persaingan yang ketat. - Meningkatkan Efisiensi Operasional:
Perusahaan perlu mengoptimalkan proses produksi dan distribusi untuk mengurangi biaya. - Mengelola Loyalitas Konsumen:
Memberikan nilai tambah untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan setia. - Memaksimalkan Keuntungan:
Dengan pertumbuhan penjualan yang stagnan, perusahaan harus memaksimalkan profitabilitas dari pelanggan yang ada.
Fokus pada Maturity Stage
- Inovasi Minor untuk Diferensiasi:
Produk perlu ditingkatkan secara fungsional atau estetika agar tetap menarik. Misalnya, Apple merilis model baru iPhone dengan fitur tambahan meskipun desain dasarnya sama. - Penguatan Identitas Brand:
Strategi pemasaran diarahkan untuk memperkuat brand positioning. Contohnya, Dove terus mempromosikan kampanye kecantikan alami untuk menjaga relevansi di pasar produk perawatan tubuh. - Penargetan Konsumen Setia:
Fokus pemasaran diarahkan pada konsumen yang sudah loyal, seperti dengan program loyalitas atau penawaran eksklusif. Contoh: Starbucks sering memberikan diskon atau produk gratis melalui program Starbucks Rewards. - Efisiensi Biaya Produksi:
Untuk menjaga margin keuntungan, perusahaan akan mencari cara untuk mengurangi biaya produksi tanpa menurunkan kualitas. Contohnya, Unilever menggunakan bahan baku lokal untuk produk seperti sabun dan deterjen. - Ekspansi Pasar:
Meskipun penjualan mungkin stagnan di pasar utama, perusahaan dapat mencari peluang di pasar baru. Contoh: Netflix memperluas jangkauannya ke negara-negara Asia dan Eropa untuk menarik pelanggan baru.
Tujuan dan fokus pada maturity stage sangat strategis untuk mempertahankan keberadaan produk di pasar. Perusahaan perlu mengoptimalkan setiap aspek operasional dan pemasaran, sambil tetap beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumen untuk memastikan produk tidak cepat memasuki tahap penurunan (decline stage).
Strategi Pemasaran di Maturity Stage
Pada maturity stage dalam product life cycle, produk telah mencapai puncak pertumbuhan penjualan, dan persaingan pasar semakin ketat. Strategi pemasaran pada tahap ini difokuskan untuk mempertahankan pangsa pasar, meningkatkan loyalitas konsumen, dan memaksimalkan keuntungan dengan inovasi yang minimal.
1. Penguatan Brand Loyalty
Brand loyalty merujuk pada kecenderungan konsumen untuk terus memilih dan membeli produk dari merek yang sama, meskipun ada banyak pilihan alternatif di pasar. Di tahap ini, strategi pemasaran difokuskan untuk menjaga hubungan positif dengan pelanggan yang sudah ada dan mengubah mereka menjadi konsumen yang setia.
- Program Loyalitas dan Reward
Salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan brand loyalty adalah dengan menawarkan program loyalitas yang memberikan penghargaan kepada pelanggan setia. Ini bisa berupa poin yang dapat ditukar dengan hadiah, diskon eksklusif, atau akses ke penawaran spesial.
Contoh: Starbucks memiliki program Starbucks Rewards yang memberikan poin kepada pelanggan untuk setiap pembelian, yang dapat ditukar dengan minuman atau makanan gratis. Program ini mendorong pelanggan untuk terus datang kembali dan meningkatkan pembelian mereka. - Personalisasi Pengalaman Pelanggan
Pelanggan cenderung lebih setia pada merek yang menawarkan pengalaman pribadi yang relevan dan berkesan. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mulai memanfaatkan data konsumen untuk menyarankan produk atau layanan yang sesuai dengan preferensi mereka.
Contoh: Amazon menggunakan algoritma untuk merekomendasikan produk berdasarkan histori pembelian dan pencarian pelanggan, yang membuat pengalaman berbelanja lebih personal dan meningkatkan loyalitas. - Penguatan Identitas Merek
Membangun dan menjaga identitas merek yang kuat di mata konsumen juga sangat penting. Merek yang konsisten dalam komunikasi dan menjaga nilai-nilai yang relevan bagi audiens dapat memperkuat loyalitas pelanggan.
Contoh: Nike dikenal dengan identitas merek yang memotivasi dan menginspirasi, dengan kampanye yang berfokus pada semangat juang, yang menjadikan banyak konsumen merasa terhubung secara emosional dengan merek tersebut. - Peningkatan Kualitas Layanan Pelanggan
Layanan pelanggan yang baik juga memainkan peran besar dalam menciptakan brand loyalty. Pelanggan yang merasa dihargai dan didengar cenderung lebih setia terhadap merek tersebut.
Contoh: Zappos terkenal dengan layanan pelanggan yang luar biasa, dengan kebijakan pengembalian barang yang sangat mudah dan layanan pelanggan yang siap membantu kapan saja, yang membuat pelanggan kembali berbelanja di sana. - Keterlibatan Sosial dan Komunitas
Merek yang terlibat dalam kegiatan sosial atau memiliki komunitas yang kuat dapat memperdalam hubungan dengan pelanggan mereka. Ini tidak hanya membuat pelanggan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, tetapi juga meningkatkan loyalitas mereka terhadap merek tersebut.
Contoh: Dove memiliki kampanye Real Beauty yang mengajak perempuan untuk merayakan kecantikan alami, yang menciptakan komunitas dan hubungan emosional dengan konsumennya.
2. Inovasi Minor pada Produk
Pada maturity stage dalam product life cycle, produk biasanya telah mencapai titik di mana permintaan stabil dan pasar mulai jenuh. Pada tahap ini, inovasi besar atau perubahan signifikan pada produk biasanya sudah tidak dilakukan lagi, karena produk tersebut sudah dikenal baik oleh konsumen dan memenuhi kebutuhan pasar. Namun, untuk tetap relevan dan bersaing dengan pesaing, perusahaan perlu melakukan inovasi minor yang dapat meningkatkan daya tarik produk tanpa mengubah esensi dari produk itu sendiri.
- Penyempurnaan Desain atau Kemasan
Salah satu inovasi minor yang umum pada maturity stage adalah penyempurnaan desain atau kemasan produk. Hal ini bisa meningkatkan daya tarik visual produk atau memberikan kemudahan bagi konsumen dalam penggunaan.
Contoh: Coca-Cola, meskipun produknya tetap sama, sering melakukan inovasi dalam desain kemasan botol atau kaleng untuk mengikuti tren desain terbaru atau untuk menarik perhatian konsumen melalui edisi terbatas atau desain khusus. - Peningkatan Kualitas Produk
Perusahaan bisa melakukan inovasi minor dengan meningkatkan kualitas produk tanpa merubah komponen utama produk. Hal ini dapat berupa peningkatan rasa, ketahanan, kenyamanan, atau fitur tambahan yang tidak merubah sifat dasar produk.
Contoh: McDonald’s, misalnya, sering kali memperkenalkan variasi baru dalam produk makanannya seperti varian burger atau salad baru, yang tetap menggunakan bahan dasar yang sudah ada, namun menawarkan pengalaman berbeda bagi pelanggan. - Penambahan Fitur Baru yang Relevan
Pada produk yang sudah matang, penambahan fitur baru yang relevan bagi konsumen bisa menjadi inovasi minor yang meningkatkan daya tarik produk. Fitur ini tidak selalu mengubah keseluruhan produk, namun memberikan nilai tambah bagi pengguna.
Contoh: Smartphone sering melakukan inovasi minor dengan menambahkan fitur seperti kamera dengan resolusi lebih tinggi, kemampuan pengisian cepat, atau peningkatan pada sistem operasi, yang membuat produk tetap menarik bagi konsumen tanpa mengubah fungsinya secara keseluruhan. - Varian Produk
Inovasi minor lainnya adalah dengan meluncurkan varian baru dari produk yang sudah ada. Ini bisa berupa ukuran baru, rasa baru, atau pengemasan yang lebih praktis. Dengan cara ini, perusahaan dapat menarik minat konsumen baru atau memberikan pilihan lebih kepada konsumen yang sudah ada.
Contoh: Nestlé dengan produk Milo, yang menyediakan varian rasa atau kemasan yang berbeda, misalnya Milo dalam kemasan sachet, botol, atau dalam varian rasa seperti coklat mint, untuk memenuhi preferensi yang berbeda-beda di pasar. - Peningkatan Fungsionalitas atau Efisiensi
Pada maturity stage, perusahaan bisa melakukan inovasi minor untuk meningkatkan fungsionalitas atau efisiensi produk, seperti menambahkan fitur yang membuat produk lebih mudah digunakan atau lebih efisien.
Contoh: Mesin cuci yang sudah ada mungkin mengalami inovasi minor dalam hal efisiensi energi atau penggunaan air, tanpa merubah fungsi dasar mesin tersebut, sehingga bisa lebih hemat biaya bagi konsumen.
3. Promosi yang Lebih Intensif
Pada maturity stage dalam product life cycle, produk telah mencapai titik jenuh di pasar, dengan banyaknya pesaing yang menawarkan produk serupa. Oleh karena itu, salah satu strategi pemasaran yang sangat penting di tahap ini adalah promosi yang lebih intensif. Promosi yang lebih intensif bertujuan untuk mempertahankan konsumen yang sudah ada, menarik konsumen baru, dan membedakan produk dari pesaing. Strategi ini berfokus pada memperkuat citra merek dan meningkatkan visibilitas produk di pasar yang kompetitif. Beberapa bentuk promosi yang sering dilakukan pada tahap ini meliputi:
- Diskon dan Penawaran Khusus
Salah satu cara untuk menarik perhatian konsumen di tahap maturity adalah dengan memberikan diskon atau penawaran khusus. Hal ini dapat menarik konsumen yang sensitif terhadap harga dan dapat meningkatkan penjualan dalam jangka pendek.
Contoh: Supermarket sering kali memberikan diskon untuk produk-produk yang sudah lama berada di rak, seperti produk makanan atau kebutuhan rumah tangga, untuk menarik pembeli dan menghabiskan stok yang ada. Penawaran beli satu gratis satu juga dapat meningkatkan volume penjualan. - Iklan yang Lebih Fokus
Di tahap maturity, perusahaan harus menyesuaikan pesan iklan agar lebih relevan dan menekankan keunggulan produk dibandingkan dengan pesaing. Iklan lebih fokus pada manfaat produk, kualitas, dan keunggulan harga, sehingga konsumen merasa produk tersebut masih merupakan pilihan terbaik di pasar.
Contoh: Perusahaan otomotif seperti Toyota dan Honda sering menggunakan iklan televisi dan digital yang menonjolkan kelebihan produk mereka, seperti efisiensi bahan bakar, kenyamanan, dan fitur keselamatan, dibandingkan dengan model lain yang ada di pasar. - Kampanye Pemasaran Digital
Mengingat pentingnya teknologi di era digital ini, kampanye pemasaran melalui media sosial, iklan berbayar, dan email marketing menjadi lebih intensif di tahap maturity. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan audiens dan memfokuskan promosi kepada segmen pasar yang lebih spesifik.
Contoh: Perusahaan kosmetik seperti Wardah atau Maybelline memanfaatkan media sosial dengan iklan yang dipersonalisasi, menawarkan potongan harga, atau mengadakan giveaway untuk menarik minat konsumen baru dan mempertahankan konsumen yang sudah ada. - Kolaborasi dengan Influencer
Di maturity stage, banyak perusahaan yang melakukan kerjasama dengan influencer atau selebritas untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik produk mereka. Ini juga untuk menarik perhatian konsumen yang lebih muda dan aktif di media sosial.
Contoh: Produk fashion seperti Zalora atau H&M sering bekerja sama dengan influencer untuk mempromosikan koleksi terbaru mereka melalui postingan atau video yang lebih kreatif di Instagram dan YouTube. - Program Loyalitas
Program loyalitas dapat menjadi bagian dari promosi intensif untuk mempertahankan pelanggan setia dengan memberikan keuntungan tambahan, seperti diskon eksklusif, hadiah, atau poin yang dapat ditukarkan. Program ini dirancang untuk mendorong pelanggan melakukan pembelian ulang dan meningkatkan frekuensi pembelian.
Contoh: Starbucks menggunakan program loyalitas berupa Starbucks Rewards yang memberikan pelanggan poin setiap kali mereka membeli minuman atau makanan. Poin tersebut bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik, seperti minuman gratis. - Event dan Sponsorship
Mengadakan acara atau menjadi sponsor dalam acara besar dapat membantu memperkenalkan produk lebih luas kepada konsumen. Kegiatan ini memberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pelanggan dan meningkatkan brand exposure.
Contoh: Perusahaan otomotif seperti Honda sering menjadi sponsor dalam acara balap atau festival, yang memberikan kesempatan untuk memamerkan produk mereka dan menghubungkan produk dengan kegiatan yang menghibur dan menarik.

4. Efisiensi Biaya Operasional
Pada maturity stage dalam product life cycle, efisiensi biaya operasional menjadi salah satu fokus utama dalam strategi pemasaran. Pada tahap ini, produk telah berada dalam pasar untuk waktu yang cukup lama, dan penjualannya mulai stabil. Namun, kompetisi semakin ketat dan konsumen memiliki banyak pilihan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mencari cara untuk menurunkan biaya tanpa mengurangi kualitas produk atau layanan. Efisiensi biaya operasional memungkinkan perusahaan untuk tetap mempertahankan profitabilitas sekaligus menawarkan harga yang kompetitif di pasar. Beberapa cara untuk mencapai efisiensi ini antara lain:
- Peningkatan Proses Produksi
Pada tahap maturity, perusahaan biasanya telah menemukan metode produksi yang sudah teruji. Oleh karena itu, penting untuk terus meningkatkan proses produksi agar lebih efisien. Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya, memperkenalkan teknologi baru, atau meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
Contoh: Perusahaan elektronik seperti Samsung dapat mengurangi biaya produksi dengan memanfaatkan otomatisasi dalam lini produksi mereka, mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual dan meningkatkan produktivitas. - Pengurangan Pemborosan dan Pembelian Massal
Salah satu cara untuk mengurangi biaya adalah dengan menekan pemborosan dalam penggunaan bahan baku. Di tahap maturity, perusahaan bisa bernegosiasi dengan pemasok untuk mendapatkan harga yang lebih baik melalui pembelian massal, atau dengan mencari alternatif bahan baku yang lebih murah namun tetap berkualitas.
Contoh: Perusahaan pakaian seperti Uniqlo atau H&M dapat mengurangi biaya produksi dengan membeli kain dalam jumlah besar untuk mengurangi biaya per unit, sambil memastikan kualitas tetap terjaga. - Pengelolaan Rantai Pasokan yang Lebih Baik
Dengan adanya persaingan yang ketat, perusahaan perlu memastikan bahwa rantai pasokan mereka berjalan dengan lancar dan efisien. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman, meminimalkan stok yang tidak terjual, dan mengelola hubungan dengan pemasok secara lebih efektif.
Contoh: Perusahaan retail seperti IKEA dapat mencapai efisiensi biaya dengan menggunakan sistem logistik yang canggih, yang memungkinkan mereka mengelola inventaris dan distribusi produk dengan lebih baik dan mengurangi biaya penyimpanan. - Optimisasi Penggunaan Tenaga Kerja
Di tahap maturity, perusahaan sering kali melakukan evaluasi terhadap penggunaan tenaga kerja. Dengan teknologi baru dan otomatisasi, beberapa pekerjaan manual dapat digantikan oleh mesin atau perangkat lunak. Ini tidak hanya mengurangi biaya gaji tenaga kerja, tetapi juga meningkatkan akurasi dan kecepatan proses operasional.
Contoh: Di restoran cepat saji seperti McDonald’s, perusahaan mulai menggunakan mesin pemesan otomatis untuk mengurangi waktu antrean dan biaya operasional yang terkait dengan pelayanan langsung oleh karyawan. - Pengurangan Pengeluaran Pemasaran yang Tidak Efektif
Di tahap maturity, penting untuk lebih selektif dalam hal pengeluaran pemasaran. Biaya iklan dan promosi harus lebih terfokus dan efisien, misalnya dengan memilih saluran iklan yang lebih efektif dan mengurangi promosi yang kurang memberikan hasil yang signifikan.
Contoh: Perusahaan seperti Coca-Cola mungkin mengurangi pengeluaran untuk iklan yang terlalu umum dan fokus pada promosi di media sosial yang lebih terarah dan dapat mengukur dampaknya secara langsung. - Diversifikasi Sumber Pendapatan
Meskipun produk utama berada di tahap maturity, perusahaan dapat mencari cara untuk diversifikasi sumber pendapatan guna meningkatkan efisiensi biaya. Salah satunya adalah dengan menambahkan layanan atau produk tambahan yang lebih menguntungkan atau menawarkan paket yang lebih menarik untuk pelanggan.
Contoh: Perusahaan teknologi seperti Apple tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat keras, tetapi juga menghasilkan pendapatan tambahan dari layanan seperti iCloud, Apple Music, dan aplikasi lainnya.
5. Diversifikasi Pasar
Pada tahap maturity stage dalam product life cycle, produk telah berada di pasar dalam waktu yang cukup lama dan kompetisi semakin ketat. Untuk menjaga agar produk tetap relevan dan kompetitif, strategi pemasaran yang efektif adalah dengan melakukan diversifikasi pasar. Strategi ini bertujuan untuk memperluas pangsa pasar produk dengan menjangkau konsumen baru atau memasuki segmen pasar yang belum digarap sebelumnya. Berikut adalah beberapa cara untuk melaksanakan strategi ini:
- Ekspansi ke Pasar Baru
Salah satu cara paling umum untuk melakukan diversifikasi pasar adalah dengan memperkenalkan produk ke pasar geografis baru. Jika produk telah sukses di pasar domestik, perusahaan dapat memperluas jangkauannya ke pasar internasional atau ke kota-kota yang sebelumnya belum terjangkau.
Contoh: Starbucks, yang pada awalnya hanya beroperasi di Amerika Serikat, kini telah memperluas pasarnya ke seluruh dunia, termasuk Asia dan Eropa, untuk memperkenalkan produk kopi premium kepada konsumen baru. - Menjangkau Segmen Pasar yang Belum Digarap
Di maturity stage, perusahaan dapat melakukan diversifikasi dengan menargetkan segmen pasar yang belum tergarap dengan produk yang sama. Misalnya, perusahaan dapat memperkenalkan produk yang lebih terjangkau untuk pasar yang lebih sensitif terhadap harga atau menyesuaikan produk agar sesuai dengan kebutuhan kelompok usia tertentu.
Contoh: Perusahaan seperti Unilever mengembangkan produk perawatan tubuh dan kecantikan dengan berbagai varian harga dan fitur untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen pasar, dari konsumen kelas menengah hingga premium. - Penyesuaian Produk untuk Pasar Spesifik
Perusahaan dapat melakukan penyesuaian produk agar lebih cocok dengan preferensi atau kebutuhan pasar tertentu. Ini bisa meliputi perubahan desain, fitur, atau kemasan produk untuk menyesuaikan dengan selera lokal atau tren pasar tertentu.
Contoh: McDonald’s menyesuaikan menu mereka di berbagai negara, dengan menawarkan hidangan lokal yang sesuai dengan selera dan kebiasaan makan masyarakat di masing-masing pasar. Misalnya, mereka menawarkan ayam teriyaki di Jepang dan roti lapis dengan bumbu lokal di Indonesia. - Penyediaan Layanan Tambahan untuk Menjangkau Konsumen Baru
Selain menjual produk fisik, perusahaan juga dapat menawarkan layanan tambahan yang dapat menarik pasar baru. Layanan ini bisa berupa fitur baru, layanan pelanggan yang lebih baik, atau paket langganan yang memberi nilai lebih kepada konsumen.
Contoh: Apple tidak hanya menjual iPhone, tetapi juga menyediakan layanan seperti AppleCare, yang memberikan perlindungan tambahan untuk perangkat. Hal ini menarik konsumen yang mungkin lebih memilih membeli perangkat dengan jaminan tambahan. - Kolaborasi dan Kemitraan Strategis
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, perusahaan juga dapat membentuk kemitraan atau kolaborasi dengan merek lain, perusahaan lain, atau influencer. Kemitraan ini memungkinkan perusahaan untuk mengakses audiens yang lebih besar dan meningkatkan penjualannya.
Contoh: Nike sering berkolaborasi dengan desainer dan selebriti terkenal, seperti Michael Jordan, untuk memperkenalkan edisi khusus produk mereka. Hal ini tidak hanya menarik penggemar merek tersebut tetapi juga memicu minat konsumen dari segmen pasar yang lebih luas. - Memanfaatkan Teknologi untuk Memperluas Pasar
Dengan adanya perkembangan teknologi, perusahaan dapat memanfaatkan platform digital dan e-commerce untuk memperluas jangkauan produk mereka ke konsumen yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Contoh: Perusahaan kosmetik seperti Fenty Beauty memanfaatkan platform e-commerce global seperti Shopify dan media sosial untuk memasarkan produk mereka ke pasar global, bahkan menjangkau konsumen di negara-negara yang sebelumnya tidak dapat diakses secara fisik.
6. Bundling dan Penawaran Khusus
Pada tahap maturity stage dalam product life cycle, produk telah stabil dan mengalami penurunan laju pertumbuhan, namun masih memiliki konsumen setia. Untuk menjaga agar produk tetap menarik di mata konsumen dan mempertahankan pangsa pasar, salah satu strategi pemasaran yang efektif adalah bundling dan penawaran khusus. Berikut beberapa penerapan dari strategi ini:
- Bundling Produk
Bundling produk adalah strategi yang menggabungkan beberapa produk menjadi satu paket dengan harga yang lebih menarik. Dalam tahap maturity, bundling dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan penjualan dengan menarik perhatian konsumen yang ingin mendapatkan nilai lebih dari pembelian mereka.
Contoh:- Perusahaan makanan cepat saji, seperti McDonald’s, sering menawarkan value meals yang menggabungkan burger, kentang goreng, dan minuman dengan harga yang lebih murah dibandingkan membeli secara terpisah.
- Perusahaan teknologi seperti Microsoft menawarkan bundling software, seperti Microsoft Office dan Windows, dengan harga paket yang lebih hemat bagi konsumen.
- Penawaran Diskon dan Promosi
Di maturity stage, perusahaan sering kali menawarkan diskon atau promosi untuk menarik lebih banyak konsumen dan mempertahankan pelanggan setia. Penawaran ini bisa berupa diskon langsung, diskon musiman, atau promosi pembelian lebih banyak dengan harga yang lebih rendah.
Contoh:- Perusahaan ritel seperti Lazada atau Tokopedia sering mengadakan promo flash sale atau diskon besar untuk produk tertentu, yang menarik minat konsumen untuk membeli lebih banyak produk sekaligus.
- Dalam industri fashion, merek seperti H&M atau Uniqlo sering mengadakan diskon musiman, seperti diskon akhir tahun, untuk meningkatkan volume penjualan.
- Penawaran Khusus untuk Konsumen Setia
Pada tahap maturity, menjaga konsumen tetap setia sangat penting. Oleh karena itu, perusahaan sering menawarkan penawaran khusus bagi pelanggan yang telah membeli produk mereka sebelumnya. Penawaran ini bisa berupa potongan harga eksklusif, akses ke produk baru terlebih dahulu, atau hadiah sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas mereka.
Contoh:- Starbucks memiliki program Starbucks Rewards, yang memberikan poin kepada pelanggan setiap kali mereka membeli produk. Poin ini bisa ditukarkan dengan minuman gratis atau diskon, memberikan insentif untuk membeli lebih sering.
- Amazon menawarkan diskon atau pengiriman gratis untuk pelanggan yang berlangganan layanan Prime, yang memberi keuntungan lebih bagi konsumen setia.
- Penawaran Spesial untuk Pembelian Lebih Banyak
Strategi ini bertujuan untuk mendorong konsumen agar membeli lebih banyak produk dalam satu transaksi dengan memberikan insentif. Hal ini bisa membantu meningkatkan volume penjualan sekaligus memberikan keuntungan lebih bagi pelanggan.
Contoh:- Supermarket sering menawarkan promosi seperti “Beli 1 Gratis 1” atau “Beli 2, Dapatkan Diskon 10%” untuk mendorong konsumen membeli lebih banyak produk dengan harga lebih rendah.
- Di industri perangkat elektronik, merek seperti Samsung atau Apple sering memberikan potongan harga untuk pembelian produk dalam jumlah lebih besar atau pembelian aksesoris dengan produk utama.
- Cross-selling atau Upselling
Selain bundling, strategi lain yang dapat diterapkan adalah cross-selling (menawarkan produk lain yang berkaitan) atau upselling (menawarkan versi lebih premium dari produk yang dibeli). Dengan cara ini, perusahaan dapat mendorong konsumen untuk menghabiskan lebih banyak uang pada pembelian mereka.
Contoh:- Di restoran cepat saji, kasir sering menawarkan untuk menambahkan menu ekstra, seperti kentang goreng atau minuman lebih besar, dengan harga diskon.
- Dalam industri otomotif, dealer mobil sering menawarkan upgrade atau aksesori tambahan pada saat konsumen membeli mobil.
7. Kolaborasi dengan Merek Lain
Pada maturity stage dalam product life cycle, produk telah mencapai titik stabil dengan volume penjualan yang tidak lagi tumbuh pesat. Untuk menjaga produk tetap relevan dan menarik di pasar yang semakin kompetitif, salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah kolaborasi dengan merek lain. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan kesadaran merek, dan menciptakan nilai tambahan bagi konsumen. Berikut beberapa penerapan strategi kolaborasi dengan merek lain:
- Kolaborasi dengan Merek yang Memiliki Audiens Serupa
Kolaborasi dengan merek yang sudah memiliki audiens serupa dapat memperluas pasar tanpa harus membangun basis pelanggan baru dari awal. Produk dapat menarik lebih banyak konsumen yang memiliki minat yang sama dengan audiens merek yang diajak berkolaborasi.
Contoh:- Dalam industri makanan dan minuman, merek seperti Oreo berkolaborasi dengan merek es krim seperti Häagen-Dazs untuk menciptakan rasa es krim Oreo, yang menawarkan sesuatu yang baru untuk kedua basis pelanggan mereka.
- Di dunia fashion, merek seperti Adidas sering berkolaborasi dengan desainer atau selebriti untuk meluncurkan koleksi edisi terbatas yang menarik perhatian konsumen baru dan menghidupkan kembali minat pada produk yang sudah ada.
- Kolaborasi untuk Inovasi Produk Baru
Pada tahap maturity, produk mungkin telah mencapai titik kejenuhan, dan perusahaan perlu cara baru untuk memasarkan produk mereka. Salah satu caranya adalah dengan berkolaborasi untuk menciptakan inovasi baru yang menarik minat konsumen. Kolaborasi ini dapat membawa fitur baru atau konsep baru yang memperbarui produk di mata pasar.
Contoh:- Apple sering berkolaborasi dengan merek teknologi lainnya seperti Beats by Dre untuk menciptakan produk baru, seperti earphone atau headphone dengan teknologi terbaru dari kedua merek.
- Toyota berkolaborasi dengan Panasonic untuk mengembangkan kendaraan listrik dan teknologi mobil masa depan yang akan menarik perhatian konsumen baru dan meningkatkan citra merek mereka.
- Co-Branding untuk Meningkatkan Kredibilitas
Kolaborasi antara dua merek yang memiliki reputasi baik dapat meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan konsumen terhadap produk tersebut. Dengan menggabungkan kekuatan merek yang sudah dikenal dan memiliki kepercayaan di pasar, perusahaan dapat memperkenalkan produk mereka dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dari konsumen.
Contoh:- Kolaborasi antara merek mewah seperti Louis Vuitton dengan merek olahraga seperti Nike menghasilkan produk edisi terbatas yang tidak hanya menarik minat penggemar mode, tetapi juga penggemar olahraga.
- Coca-Cola sering melakukan co-branding dengan perusahaan makanan cepat saji seperti McDonald’s, di mana Coca-Cola menjadi minuman utama yang ditawarkan di restoran McDonald’s di seluruh dunia.
- Kolaborasi untuk Meningkatkan Akses ke Pasar Baru
Kolaborasi juga bisa digunakan untuk memperluas jangkauan produk ke pasar baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Dengan bermitra dengan merek yang sudah memiliki saluran distribusi yang kuat atau pelanggan di pasar yang berbeda, perusahaan dapat memperkenalkan produk mereka ke audiens baru.
Contoh:- Starbucks berkolaborasi dengan Uber Eats untuk menawarkan pengiriman kopi ke rumah pelanggan, yang memungkinkan Starbucks untuk menjangkau pasar baru yang lebih luas tanpa membuka toko baru.
- Amazon berkolaborasi dengan berbagai merek pakaian untuk menjual produk-produk mereka di platform Amazon Fashion, meningkatkan jangkauan produk mereka kepada pelanggan yang sudah terbiasa berbelanja di Amazon.
- Kolaborasi untuk Meningkatkan Pengalaman Pelanggan
Selain kolaborasi produk, perusahaan juga dapat bekerja sama dalam menciptakan pengalaman baru bagi konsumen. Hal ini bisa berupa penyelenggaraan acara bersama, kampanye pemasaran bersama, atau bahkan promosi penawaran khusus yang menguntungkan bagi konsumen.
Contoh:- Starbucks dan Spotify berkolaborasi untuk menawarkan pengalaman streaming music di kafe-kafe mereka. Pelanggan yang mengunjungi Starbucks bisa menikmati playlist musik yang dipilih oleh Spotify, menciptakan pengalaman yang lebih menyeluruh bagi konsumen.
- Di sektor pariwisata, maskapai penerbangan seperti Emirates berkolaborasi dengan hotel-hotel mewah untuk menawarkan paket liburan yang lebih eksklusif bagi pelanggan mereka.

Contoh Produk pada Maturity Stage
Pada maturity stage dalam product life cycle, produk telah mencapai tingkat penetrasi pasar yang sangat tinggi dan mengalami pertumbuhan yang lebih stabil atau bahkan mulai menurun. Pada tahap ini, persaingan di pasar semakin ketat, dan inovasi besar jarang terjadi. Produk biasanya telah mapan dan dikenal luas oleh konsumen. Berikut ini adalah beberapa contoh produk yang berada dalam maturity stage:
1. Televisi LED
Televisi LED adalah salah satu contoh produk yang telah memasuki maturity stage. Meskipun terus ada inovasi minor, seperti peningkatan kualitas gambar (misalnya 4K atau 8K) atau penambahan fitur smart TV, sebagian besar konsumen sudah sangat familiar dengan produk ini. Pasar televisi LED cenderung sangat kompetitif, dengan banyak merek yang menawarkan produk serupa. Oleh karena itu, produsen TV sering kali memanfaatkan strategi harga yang lebih kompetitif, penawaran bundling, dan promosi untuk menjaga pangsa pasar.
2. Smartphone
Smartphone telah berada dalam maturity stage selama beberapa tahun. Meskipun ada inovasi minor seperti peningkatan kamera, layar lebih besar, dan baterai yang lebih tahan lama, pada dasarnya fungsi smartphone tidak berubah jauh. Pasar smartphone sangat kompetitif dengan merek besar seperti Apple, Samsung, dan Xiaomi yang terus bersaing. Produsen smartphone sering kali menggunakan strategi pemasaran yang intensif, seperti diskon besar, bundling dengan aksesori, atau kemitraan dengan penyedia layanan untuk mempertahankan pelanggan.
3. Sepatu Sneakers
Sepatu sneakers juga merupakan contoh produk yang berada pada maturity stage. Merek seperti Nike, Adidas, dan Puma telah mendominasi pasar sepatu ini dengan desain yang terus diperbarui, tetapi pada dasarnya, produk utama mereka tetap sama. Meskipun ada inovasi dalam hal bahan dan kenyamanan, produk ini telah mencapai titik di mana pertumbuhannya lebih stabil, dan perusahaan harus bekerja keras untuk membedakan diri melalui branding, promosi, dan kolaborasi dengan selebriti atau desainer ternama.
4. Mobil Sedan
Mobil sedan, terutama di pasar negara berkembang, sudah memasuki maturity stage. Meskipun ada inovasi dalam hal fitur keselamatan dan teknologi kendaraan, seperti sistem hiburan canggih dan teknologi kendaraan otonom, desain dasar mobil sedan hampir tidak banyak berubah. Pasar untuk mobil sedan sangat kompetitif, dengan banyak merek yang menawarkan varian dengan harga dan fitur yang sangat mirip. Oleh karena itu, produsen mobil sering kali menggunakan promosi besar-besaran, paket layanan, dan pembiayaan menarik untuk menarik pembeli.
5. Soda/Minuman Kemasan
Produk seperti Coca-Cola atau Pepsi juga berada dalam maturity stage. Kedua merek ini telah menguasai pasar minuman ringan selama puluhan tahun dan meskipun ada variasi rasa baru yang dikeluarkan secara berkala, produk dasar mereka tetap sama. Pada maturity stage, produsen sering kali meningkatkan frekuensi promosi dan diskon untuk menjaga agar konsumen tetap loyal dan untuk menghadapai persaingan yang semakin ketat, termasuk dengan merek-merek lokal yang terus bermunculan.
6. Pasta Gigi
Pasta gigi, seperti merek Pepsodent atau Sensodyne, adalah contoh produk lain yang telah memasuki maturity stage. Meskipun ada berbagai inovasi minor terkait rasa, kandungan, atau tambahan fitur (misalnya untuk gigi sensitif atau pemutih), secara keseluruhan produk ini sudah dikenal dan digunakan secara luas. Persaingan di pasar ini sangat ketat, dan produsen biasanya menawarkan berbagai penawaran untuk menarik pelanggan baru atau mempertahankan pelanggan yang sudah ada.



