Di dunia bisnis, tidak ada produk yang akan tetap relevan selamanya. Setiap produk akan melewati siklus hidup yang tak terelakkan, dan salah satu fase paling menantang adalah decline stage dalam product life cycle. Ini adalah saat di mana penjualan mulai menurun, minat konsumen berkurang, dan masa depan produk pun terasa semakin suram. Namun, apakah penurunan ini berarti akhir yang pasti? Bagaimana kita bisa mengenali tanda-tanda produk yang berada dalam decline stage dan mengambil langkah strategis untuk memanfaatkannya sebelum terlambat? Saat produk menghadapi fase ini, perencanaan yang cermat dapat menjadi kunci untuk memperpanjang usia produk atau bahkan mengubah arah bisnis.
Pengertian Decline Stage dalam Product Life Cycle
Decline stage dalam product life cycle adalah tahap ketika permintaan terhadap suatu produk mulai menurun secara signifikan. Penurunan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan tren pasar, kemajuan teknologi, persaingan yang semakin ketat, atau perubahan preferensi konsumen. Pada tahap ini, perusahaan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan relevansi produk di pasar.
Beberapa produk mengalami penurunan secara perlahan, sementara yang lain bisa anjlok dalam waktu singkat. Jika tidak ada strategi yang efektif, perusahaan mungkin harus menghentikan produksi atau menarik produk dari pasar. Namun, beberapa perusahaan berhasil memperpanjang umur produk dengan melakukan inovasi, menargetkan segmen pasar yang lebih spesifik, atau menurunkan biaya produksi untuk mempertahankan profitabilitas.
Contoh:
- Ponsel dengan tombol fisik – Sejak munculnya ponsel layar sentuh, permintaan terhadap ponsel dengan tombol fisik terus menurun.
- Kamera digital sederhana – Smartphone dengan kamera canggih membuat kamera digital entry-level semakin jarang diminati.
- CD dan DVD – Layanan streaming seperti Spotify dan Netflix menggeser penggunaan CD dan DVD.
Pada tahap decline stage, perusahaan harus memutuskan apakah akan tetap bertahan dengan strategi baru atau secara perlahan menarik produk dari pasar untuk mengalokasikan sumber daya ke produk yang lebih potensial.
Ciri-Ciri Utama dari Decline Stage
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, produk mulai kehilangan daya tariknya di pasar. Konsumen beralih ke alternatif lain, baik karena inovasi baru, perubahan tren, atau pergeseran kebutuhan. Berikut adalah ciri-ciri utama dari tahap ini:
- Penurunan Penjualan yang Signifikan
Permintaan terhadap produk menurun secara drastis, baik karena munculnya teknologi baru, perubahan gaya hidup, maupun pergeseran preferensi konsumen.
Contoh: Kamera digital sederhana yang dulu populer kini tergeser oleh kamera smartphone yang lebih praktis dan canggih. - Persaingan Berkurang, tapi Pasar Semakin Kecil
Banyak pesaing yang mulai meninggalkan pasar karena penjualan tidak lagi menguntungkan. Namun, perusahaan yang tetap bertahan harus menghadapi pasar yang semakin menyusut.
Contoh: Produsen CD dan DVD yang masih ada sekarang lebih menyasar kolektor atau segmen khusus karena pasar massal sudah beralih ke layanan streaming. - Diskon dan Clearance Sale untuk Menghabiskan Stok
Perusahaan sering kali menawarkan harga diskon besar-besaran untuk menghabiskan stok yang tersisa sebelum menghentikan produksi.
Contoh: Toko elektronik sering menjual model ponsel lama dengan harga jauh lebih murah setelah model terbaru diluncurkan. - Minimnya Inovasi Baru pada Produk
Karena produk tidak lagi menjadi fokus utama perusahaan, biasanya tidak ada inovasi besar yang dilakukan. Jika ada perubahan, umumnya hanya untuk mengurangi biaya produksi.
Contoh: Produsen mesin ketik yang masih beroperasi hanya memproduksi model yang sama tanpa perubahan fitur signifikan. - Keputusan untuk Phase Out atau Mencari Pasar Niche
Perusahaan harus memilih antara menghentikan produk (phase out) atau mencari segmen pasar baru yang masih membutuhkan produk tersebut.
Contoh: Beberapa produsen piringan hitam (vinyl records) berhasil bertahan dengan menyasar kolektor dan pencinta musik klasik, meskipun format digital mendominasi pasar musik.
Pada tahap ini, perusahaan perlu mengevaluasi apakah masih ada potensi untuk mempertahankan produk dengan strategi baru atau lebih baik mengalihkan sumber daya ke produk lain yang lebih menguntungkan.

Tujuan dan Fokus pada Decline Stage
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, perusahaan menghadapi tantangan besar karena permintaan produk terus menurun. Dalam situasi ini, perusahaan harus mengambil keputusan strategis untuk mengelola produk yang berada di fase akhir siklus hidupnya. Berikut adalah beberapa tujuan dan fokus utama pada tahap ini:
- Memaksimalkan Keuntungan dari Sisa Pasar
Perusahaan berusaha memperoleh keuntungan maksimal dari segmen pasar yang masih membutuhkan produk tersebut.
Contoh: Produsen mesin ketik fokus menjual produknya kepada kolektor atau institusi yang masih menggunakannya, seperti kantor hukum tertentu. - Efisiensi Biaya Produksi dan Distribusi
Mengurangi biaya produksi, distribusi, dan pemasaran agar tetap mendapatkan keuntungan meskipun volume penjualan menurun.
Contoh: Produsen DVD hanya mencetak dalam jumlah terbatas dan mendistribusikannya ke pasar niche, seperti komunitas film klasik. - Menentukan Strategi Produk: Tetap Bertahan atau Phase Out
Perusahaan harus memutuskan apakah akan tetap mempertahankan produk dengan strategi baru atau secara bertahap menghapusnya dari pasar.
Contoh: Nokia menghentikan produksi ponsel fitur lama dan mengalihkan fokus ke segmen ponsel pintar. - Menjual Hak atau Merek Produk
Jika produk masih memiliki nilai bagi pihak lain, perusahaan bisa menjual lisensi atau mereknya ke pihak ketiga.
Contoh: Perusahaan makanan bisa menjual merek dagangnya ke produsen yang lebih kecil yang masih ingin memproduksi produk tersebut. - Diversifikasi atau Transformasi Produk
Beberapa perusahaan mencoba mengadaptasi atau memperbarui produk agar tetap relevan di pasar.
Contoh: Produsen kamera analog mengembangkan produk edisi khusus untuk kolektor dan fotografer profesional.
Pada tahap ini, keputusan yang diambil sangat krusial karena menentukan apakah perusahaan masih bisa mendapatkan keuntungan dari produk tersebut atau lebih baik mengalokasikan sumber daya ke produk lain yang lebih menjanjikan.

Strategi Pemasaran di Decline Stage
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, perusahaan menghadapi penurunan permintaan yang signifikan. Oleh karena itu, strategi pemasaran harus disesuaikan agar produk tetap memberikan keuntungan atau dapat ditransisikan dengan cara yang lebih menguntungkan. Berikut adalah beberapa strategi pemasaran yang dapat diterapkan pada tahap ini:
1. Menargetkan Niche Market
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, permintaan terhadap produk secara umum menurun. Namun, dalam beberapa kasus, masih ada kelompok pelanggan tertentu yang tetap setia menggunakan produk tersebut. Oleh karena itu, salah satu strategi pemasaran yang efektif adalah menargetkan niche market—sekelompok kecil konsumen yang memiliki kebutuhan spesifik dan loyal terhadap produk.
Mengapa Menargetkan Niche Market?
- Menghindari persaingan langsung dengan produk baru yang lebih modern.
- Mengoptimalkan sisa permintaan dari pelanggan setia.
- Mengurangi biaya pemasaran dengan fokus pada audiens yang lebih spesifik.
- Memaksimalkan profit dengan menawarkan produk dalam jumlah terbatas namun dengan harga premium.
Contoh Penerapan
- Kamera Film Analog
Di era fotografi digital, kamera film analog mengalami penurunan drastis dalam permintaan pasar massal. Namun, beberapa merek seperti Leica dan Fujifilm masih menargetkan fotografer profesional dan kolektor yang mengapresiasi estetika hasil foto dari kamera analog. - Piringan Hitam (Vinyl Records)
Musik digital telah menggantikan format fisik seperti CD dan kaset. Namun, piringan hitam masih memiliki pasar tersendiri di kalangan pecinta musik klasik dan audiophile yang mengutamakan kualitas suara analog. - Mesin Tik
Mesin tik memang sudah tergantikan oleh komputer dan laptop, tetapi beberapa komunitas jurnalis, kolektor, dan penggemar alat klasik masih mencari produk ini. Beberapa produsen menawarkan mesin tik antik atau versi modern dengan desain retro. - Mobil Klasik dan Suku Cadang Lama
Meskipun mobil listrik dan hybrid semakin populer, masih ada pasar untuk mobil klasik dan suku cadangnya. Kolektor dan penggemar otomotif tetap mencari onderdil lama yang tidak lagi diproduksi secara massal.
2. Menurunkan Harga (Diskon dan Promosi Clearance)
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, permintaan terhadap produk mengalami penurunan yang signifikan. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk tetap menarik perhatian pelanggan adalah dengan menurunkan harga melalui diskon besar-besaran atau promosi clearance sale.
Mengapa Menurunkan Harga?
- Menghabiskan stok produk yang masih tersisa sebelum dihentikan produksinya.
- Menarik pelanggan yang sensitif terhadap harga untuk membeli dalam jumlah lebih banyak.
- Mengoptimalkan pendapatan sebelum produk benar-benar keluar dari pasar.
- Mempercepat peralihan pelanggan ke produk baru yang menggantikan produk lama.
Contoh Penerapan
- Smartphone Generasi Lama
Setiap tahun, produsen seperti Apple dan Samsung merilis model terbaru dari smartphone mereka. Untuk menghabiskan stok model lama, mereka sering menawarkan diskon besar, cashback, atau promosi bundling dengan aksesori gratis. - Fashion dan Pakaian Musiman
Produk fashion memiliki siklus tren yang cepat. Ketika musim berganti, banyak merek pakaian melakukan clearance sale untuk menghabiskan stok produk lama dan memberi ruang bagi koleksi baru. - Mobil dengan Model Lama
Ketika pabrikan otomotif meluncurkan generasi baru dari suatu model mobil, dealer sering memberikan potongan harga atau promo cicilan rendah untuk model lama guna menghabiskan stok yang tersisa. - Produk Elektronik Lama
Televisi, laptop, dan perangkat elektronik lainnya mengalami inovasi yang cepat. Model lama sering kali dijual dengan harga diskon menjelang peluncuran produk baru agar retailer dapat memperbarui stok mereka. - Makanan dan Minuman dengan Tanggal Kedaluwarsa Dekat
Supermarket sering menawarkan potongan harga besar untuk produk makanan dan minuman yang mendekati tanggal kedaluwarsa agar tidak mengalami kerugian akibat barang yang tidak terjual.
3. Mengurangi Biaya Pemasaran dan Distribusi
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, produk mulai kehilangan daya tarik di pasar akibat perubahan tren, teknologi baru, atau munculnya pesaing yang lebih inovatif. Oleh karena itu, perusahaan harus mengoptimalkan efisiensi operasionalnya, salah satunya dengan mengurangi biaya pemasaran dan distribusi agar tetap mendapatkan keuntungan dari produk yang masih tersisa.
Mengapa Harus Mengurangi Biaya Pemasaran dan Distribusi?
- Efisiensi Anggaran: Menghindari pemborosan dana untuk promosi produk yang sudah tidak diminati.
- Fokus pada Produk yang Masih Relevan: Mengalokasikan sumber daya ke produk yang masih memiliki potensi pertumbuhan.
- Menjaga Keuntungan: Mengurangi biaya tetap agar profitabilitas tetap terjaga meskipun volume penjualan menurun.
- Menghindari Overproduksi: Mengurangi biaya distribusi untuk produk yang tidak lagi memiliki permintaan tinggi.
Strategi Pengurangan Biaya Pemasaran dan Distribusi
- Menghentikan Iklan Massal
- Perusahaan dapat menghentikan iklan di TV, radio, atau media digital yang membutuhkan anggaran besar.
- Fokus pada strategi pemasaran organik atau word-of-mouth untuk menjangkau pelanggan setia tanpa biaya besar.
- Mengurangi Saluran Distribusi
- Menghentikan pengiriman produk ke retailer yang kurang menguntungkan.
- Memprioritaskan penjualan melalui kanal dengan margin keuntungan yang lebih tinggi, seperti toko online atau langsung ke konsumen.
- Mengoptimalkan Stok di Gudang
- Mengurangi jumlah stok yang tersedia untuk menghindari biaya penyimpanan yang berlebihan.
- Mengadakan promo bundling atau diskon untuk mempercepat perputaran stok.
- Mengurangi Tim Penjualan dan Promosi
- Jika produk sudah tidak lagi menjadi prioritas utama, perusahaan bisa mengalihkan tenaga pemasaran ke produk lain yang lebih potensial.
- Menggunakan sistem otomatisasi pemasaran untuk menghemat tenaga kerja dan biaya operasional.
Contoh Penerapan
- DVD dan Blu-ray
Seiring dengan berkembangnya layanan streaming seperti Netflix dan Disney+, permintaan DVD dan Blu-ray terus menurun. Banyak produsen mulai menghentikan iklan dan hanya mendistribusikan produk ini melalui toko online tertentu atau di daerah dengan akses internet terbatas. - Majalah Cetak
Banyak media cetak beralih ke versi digital dan mengurangi biaya pemasaran untuk edisi fisik. Distribusi majalah cetak juga lebih terbatas dibandingkan masa kejayaannya. - Smartphone Model Lama
Setelah model terbaru diluncurkan, perusahaan seperti Samsung atau Apple biasanya mengurangi promosi untuk model lama dan hanya menjualnya di kanal tertentu dengan stok terbatas. - Produk Kosmetik dengan Tren Sementara
Produk kecantikan dengan tren tertentu (misalnya, warna lipstik atau produk limited edition) sering kali mengalami penurunan permintaan. Perusahaan akan mengurangi pemasaran dan hanya menjual stok yang tersisa sebelum mengeluarkan koleksi terbaru.

4. Mengubah atau Merekonstruksi Produk
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, produk mengalami penurunan permintaan akibat perubahan tren, inovasi teknologi, atau munculnya pesaing yang lebih unggul. Salah satu strategi agar produk tetap relevan di pasar adalah dengan mengubah atau merekonstruksi produk. Strategi ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan fitur, desain, atau fungsi produk agar sesuai dengan kebutuhan konsumen yang berkembang.
Mengapa Mengubah atau Merekonstruksi Produk?
- Menyesuaikan dengan Tren Baru: Produk yang mengalami penurunan dapat diperbarui agar lebih relevan dengan tren pasar terkini.
- Menarik Kembali Minat Konsumen: Inovasi pada produk dapat menarik pelanggan lama maupun calon pelanggan baru.
- Memperpanjang Siklus Hidup Produk: Dengan pembaruan, produk bisa kembali ke tahap growth atau maturity dalam product life cycle.
- Meningkatkan Daya Saing: Perubahan produk dapat membuatnya kembali bersaing dengan produk-produk baru di pasar.
Strategi Mengubah atau Merekonstruksi Produk
- Melakukan Rebranding
- Mengubah tampilan kemasan, logo, atau slogan agar lebih modern dan menarik bagi target pasar baru.
- Contoh: Pepsi pernah mengubah desain logo dan kemasannya untuk menarik generasi muda.
- Menambahkan atau Meningkatkan Fitur Produk
- Memodifikasi produk dengan fitur yang lebih modern atau sesuai dengan kebutuhan terbaru konsumen.
- Contoh: Nokia yang awalnya gagal bersaing di era smartphone akhirnya mengadopsi sistem operasi Android untuk meningkatkan daya saingnya.
- Mengubah Formulasi atau Bahan Produk
- Mengembangkan kembali produk dengan bahan atau teknologi baru yang lebih ramah lingkungan atau lebih sehat.
- Contoh: Banyak merek makanan cepat saji kini beralih ke bahan-bahan organik untuk menarik konsumen yang peduli kesehatan.
- Menyesuaikan Produk dengan Segmen Pasar Baru
- Mengadaptasi produk untuk target pasar yang berbeda atau memperluas segmen pelanggan.
- Contoh: Mobil listrik yang awalnya hanya ditargetkan untuk kalangan tertentu kini mulai diproduksi dalam varian yang lebih terjangkau untuk pasar massal.
Contoh Penerapan di Dunia Nyata
- BlackBerry Beralih ke Android
- BlackBerry yang dulu mendominasi pasar ponsel mulai mengalami decline akibat persaingan dengan iPhone dan ponsel Android.
- Untuk tetap bertahan, BlackBerry beralih menggunakan sistem operasi Android dan menambahkan fitur keamanan yang menjadi keunggulannya.
- Coca-Cola dengan Varian Produk Baru
- Saat tren minuman rendah gula meningkat, Coca-Cola menyesuaikan produknya dengan menghadirkan varian Coca-Cola Zero Sugar untuk memenuhi permintaan pasar.
- Netflix yang Beralih dari DVD ke Streaming
- Netflix awalnya adalah layanan penyewaan DVD, tetapi ketika tren menonton film berubah, mereka mengubah model bisnisnya menjadi layanan streaming.
- Perubahan ini membuat Netflix bertahan dan bahkan mendominasi industri hiburan digital.
5. Merekonsiliasi dengan Produk Baru (Bundling)
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, salah satu strategi untuk mempertahankan penjualan adalah dengan melakukan bundling, yaitu menggabungkan produk lama dengan produk baru dalam satu paket penawaran. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan nilai produk yang sudah mengalami penurunan permintaan dengan cara menarik perhatian konsumen melalui insentif tambahan.
Mengapa Bundling Efektif di Decline Stage?
- Mengurangi Stok Produk Lama: Produk yang kurang diminati bisa tetap terjual dengan cara digabungkan dengan produk baru yang lebih menarik.
- Meningkatkan Daya Tarik Konsumen: Konsumen merasa mendapatkan lebih banyak manfaat dengan harga yang lebih kompetitif.
- Mendorong Konsumen Mencoba Produk Baru: Dengan bundling, pelanggan yang setia terhadap produk lama bisa lebih tertarik mencoba inovasi terbaru dari merek yang sama.
- Memaksimalkan Pendapatan Sebelum Produk Dihentikan: Strategi ini bisa menjadi cara terakhir untuk menghasilkan keuntungan sebelum produk dihapus dari pasar.
Jenis-Jenis Bundling dalam Decline Stage
- Cross-Product Bundling
- Menggabungkan produk lama dengan produk baru dari kategori berbeda dalam satu paket.
- Contoh: Apple pernah menawarkan paket bundling MacBook dengan iPod untuk meningkatkan penjualan kedua produk tersebut.
- Buy One, Get One (BOGO)
- Konsumen mendapatkan produk lama secara gratis atau dengan diskon besar jika membeli produk baru.
- Contoh: Merek kosmetik yang menawarkan pembelian lipstik baru dengan bonus lipstik dari koleksi lama.
- Limited Edition Bundling
- Menggabungkan produk lama dan baru dalam kemasan edisi terbatas untuk menciptakan kesan eksklusif.
- Contoh: Perusahaan minuman yang mengemas varian lama dengan edisi terbaru dalam satu paket khusus.
Contoh Penerapan di Dunia Nyata
- Sony dengan Paket Bundling PlayStation
- Saat PlayStation 4 mulai memasuki decline stage dengan hadirnya PlayStation 5, Sony menawarkan bundling berupa konsol PS4 dengan game eksklusif terbaru untuk meningkatkan daya tarik produk lama.
- McDonald’s dan Paket Menu Khusus
- McDonald’s sering menggabungkan produk lama yang kurang laku dengan menu baru dalam satu paket dengan harga spesial, sehingga tetap bisa menjual produk yang berada di tahap decline.
- Smartphone dengan Aksesori Gratis
- Merek smartphone yang menghadapi penurunan permintaan untuk model lama sering menawarkan bundling dengan aksesori seperti earbuds atau casing gratis untuk menarik pembeli.
6. Menghentikan Produk Secara Bertahap (Phase Out)
Pada tahap decline stage dalam product life cycle, salah satu strategi yang dapat digunakan adalah menghentikan produk secara bertahap atau yang dikenal dengan istilah phase out. Strategi ini dilakukan dengan cara mengurangi produksi dan distribusi produk secara perlahan, dengan tujuan untuk mengurangi kerugian yang timbul akibat penurunan permintaan yang signifikan. Hal ini juga memberi waktu kepada perusahaan untuk merencanakan langkah selanjutnya, seperti pengenalan produk baru atau perubahan strategi bisnis.
Mengapa Phase Out Efektif di Decline Stage?
- Meminimalkan Kerugian: Dengan menghentikan produk secara bertahap, perusahaan dapat mengurangi biaya produksi dan distribusi yang tidak lagi efektif.
- Memberikan Ruang untuk Produk Baru: Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk mengalihkan sumber daya ke produk baru yang lebih menjanjikan.
- Menghindari Pemborosan Sumber Daya: Alih-alih terus memasarkan produk yang tidak lagi diminati pasar, perusahaan lebih bijak untuk menghentikan penjualan secara bertahap.
- Membangun Citra Positif: Menghentikan produk dengan cara yang terorganisir bisa menunjukkan bahwa perusahaan mengutamakan inovasi dan perkembangan produk yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar.
Langkah-Langkah dalam Phase Out
- Pengurangan Produksi Secara Bertahap
- Mengurangi volume produksi untuk menyesuaikan dengan penurunan permintaan, sehingga perusahaan tidak terlalu banyak menumpuk stok yang tidak terjual.
- Pengurangan Saluran Distribusi
- Secara bertahap mengurangi titik penjualan atau saluran distribusi yang memasarkan produk tersebut. Produk mungkin hanya tersedia di beberapa lokasi terbatas atau di kanal online saja.
- Penarikan Iklan dan Promosi
- Mengurangi kegiatan promosi dan iklan yang berfokus pada produk tersebut, dan mulai beralih untuk mempromosikan produk baru atau produk yang masih berkembang.
- Penyediaan Stok Sisa dengan Diskon
- Memberikan diskon atau penawaran spesial untuk menghabiskan sisa stok produk yang akan dihentikan. Ini bisa dilakukan melalui program clearance sale atau promosi terbatas.
Contoh Penerapan Phase Out di Dunia Nyata
- Konsol Game PlayStation Vita oleh Sony
- Sony secara bertahap menghentikan produk PlayStation Vita setelah konsol tersebut tidak lagi menarik minat pasar. Proses phase out dimulai dengan pengurangan produksi, penurunan ketersediaan di pasar, dan akhirnya penghentian total produk setelah konsol PlayStation 4 dan PlayStation 5 lebih dominan.
- Produk Smartphone Keluaran Lama
- Banyak merek smartphone seperti Samsung dan Apple secara bertahap menghentikan model-model lama mereka dengan cara mengurangi stok, menurunkan harga, dan akhirnya menghentikan penjualannya setelah model-model baru lebih unggul dan memiliki fitur yang lebih menarik.
- Produk Makanan dengan Permintaan Menurun
- Beberapa perusahaan makanan dan minuman, seperti Nestlé, mengurangi produksi dan distribusi produk-produk tertentu yang mengalami penurunan permintaan, seperti makanan yang tidak lagi sesuai dengan tren kesehatan, dengan cara mengurangi keberadaannya di pasar dan mengurangi promosi.

Contoh Produk pada Decline Stage
Pada decline stage dalam product life cycle, produk mengalami penurunan permintaan yang signifikan, dan perusahaan biasanya mulai mengurangi investasi dan fokus untuk menghentikan produk secara bertahap. Beberapa contoh produk yang berada di tahap ini menunjukkan bagaimana sebuah produk bisa mengalami penurunan yang tak terhindarkan, baik karena perubahan teknologi, preferensi konsumen, atau faktor lainnya.
Contoh Produk pada Decline Stage
- MP3 Player
- MP3 player, yang pernah menjadi gadget yang sangat populer untuk mendengarkan musik secara portabel, kini penjualannya sudah menurun drastis. Dengan adanya ponsel pintar yang mampu memutar musik dengan kualitas tinggi, MP3 player kini hanya diminati oleh segelintir orang yang lebih suka perangkat khusus untuk mendengarkan musik. Walaupun masih ada beberapa produsen yang memasarkan MP3 player, penjualannya terus menurun dan hanya masalah waktu sebelum produk ini sepenuhnya hilang.
- Kamera Digital Pocket
- Meskipun kamera digital pocket (seperti kamera Canon dan Nikon) masih ada di pasaran, penjualannya terus menurun karena smartphone dengan kamera berkualitas tinggi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar konsumen. Konsumen kini lebih memilih smartphone karena praktis dan multifungsi. Kamera pocket yang dulu sangat populer sekarang hanya diminati oleh sebagian kecil pengguna yang memerlukan kualitas foto lebih baik di luar kemampuan smartphone, tetapi permintaan tetap terus menurun.
- DVD Player
- Meskipun layanan streaming digital semakin mendominasi hiburan rumah, DVD player masih ada di pasaran dan beberapa rumah tangga mungkin masih menggunakannya. Namun, penjualannya telah mengalami penurunan yang tajam, karena sebagian besar orang beralih ke platform streaming seperti Netflix atau Disney+. DVD player mungkin masih digunakan oleh sebagian kecil orang yang memiliki koleksi DVD fisik, tetapi pasar untuk perangkat ini terus mengecil.
- Ponsel dengan Layar QWERTY (Blackberry dan Model Serupa)
- Ponsel dengan tombol fisik QWERTY, seperti yang pernah diproduksi oleh Blackberry, sekarang hanya memiliki pasar yang sangat kecil. Meskipun beberapa model masih tersedia di pasaran, smartphone dengan layar sentuh dan aplikasi yang lebih canggih telah menggantikan ponsel dengan tombol fisik tersebut. Namun, produk ini masih diproduksi oleh beberapa merek dan mungkin dipasarkan untuk kalangan tertentu, seperti pekerja yang memerlukan keyboard fisik untuk mengetik dengan cepat. Namun, permintaan terus berkurang dan produk ini hanya tinggal menunggu waktu sebelum tidak relevan lagi.
- Kartu Memori SD untuk Kamera
- Dengan berkembangnya teknologi penyimpanan berbasis cloud dan penyimpanan internal yang semakin besar pada smartphone, permintaan terhadap kartu memori SD untuk kamera digital telah menurun. Meskipun masih digunakan oleh sebagian fotografer atau pengguna yang memiliki kamera lama, penjualannya kini terus menurun. Para pengguna lebih cenderung mengandalkan penyimpanan cloud atau penyimpanan internal perangkat mereka, sehingga produk ini berada di ujung tanduk.
- Flashdisk dan USB Drive dengan Kapasitas Kecil
- Meskipun masih digunakan untuk transfer data, flashdisk dan USB drive dengan kapasitas kecil (misalnya 2GB hingga 16GB) sekarang sudah tidak relevan lagi bagi sebagian besar pengguna, terutama dengan adanya penyimpanan cloud yang lebih praktis dan kapasitas penyimpanan besar yang tersedia pada perangkat lainnya. Flashdisk dan USB drive ini hanya diminati oleh segelintir orang yang membutuhkan solusi fisik untuk memindahkan data dalam jumlah kecil, namun masa depan mereka di pasar semakin suram.



